You are here
Home > Opini > Generasi Milenial Harus Lebih Hati-Hati dengan Jejak Digitalnya
31.080 views

Generasi Milenial Harus Lebih Hati-Hati dengan Jejak Digitalnya

dncommunity.id – “Rekam Jejak digital, ibarat ranjau bom yang bisa meledak di waktu yang tepat” pesan ini di tujukan untuk generasi milenial yang begitu gandrung dan tidak bisa lepas dari pengaruh internet yang ada di genggamannya.

Sandi S. Varnado dalam jurnalnya berjudul “Your Digital Footprint Left Behind at Death: An Illustration of Technology Leaving the Law Behind” mengatakan bahwa jejak digital merupakan kumpulan jejak dari semua data digital, baik dokumen maupun akun digital. Jejak digital dapat tersedia baik bagi data digital yang disimpan di komputer maupun yang disimpan secara online.

Manusia masa kini menghasilkan jejak digital jauh lebih besar dibandingkan masa sebelumnya. Ini terjadi karena masifnya penggunaan smartphone. Tahun 2017 diperkirakan ada 2,32 miliar pengguna smartphone di seluruh dunia. Pada tahun ini jumlahnya diprediksi meningkat hingga mencapai 2,53 miliar pengguna.

Melalui smartphone hampir segala jejak digital bisa tercipta. E-mail yang dikirim/diterima, pembaruan status di media sosial, jejak navigasi GPS, hingga foto/video yang disimpan, semuanya menghasilkan jejak digital.

Jejak digital terbagi menjadi dua, dilihat dari cara bagaimana suatu kegiatan digital menghasilkan jejak. Ia adalah jejak digital pasif dan jejak digital aktif. Jejak digital pasif merupakan jejak yang tidak sengaja ditinggalkan. Tidak ada tindakan aktif yang dilakukan si pemilik jejak dalam menghasilkan jejak digital itu.

Sementara itu jejak digital aktif merupakan segala jejak digital yang tercipta atas peran aktif si pengguna. Ini misalnya termuat dalam segala unggahan atau pembaruan status di media sosial. Serta segala e-mail yang dikirim pemilik jejak digital. Dengan sadar mereka menciptakan jejak digitalnya sendiri. di kutip dari laman Techtern.

Kelly Moore dalam jurnalnya berjudul “The Influence of Personality on Facebook Usage, Wall Posting, and Regret” menyatakan bahwa 20 persen pengguna Facebook tak mau apapun yang ia unggah ke media sosial itu dilihat oleh atasan mereka.

Jejak digital, yang tercipta atas segala tindak-tanduk digital penggunanya, sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai bom ranjau yang tertanam di dalam si pemilik jejak. Bom akan “meledak” terutama jika ada pihak-pihak tertentu yang menargetkan si pemilik jejak digital. Apalagi jika si pemilik jejak diketahui memiliki data-data digital yang merugikan dirinya.

Hal ini harus di wapadai oleh generasi milenial, karena mereka merupakan generasi penerus Bangsa, yang punya peran startegis untuk memajukan bangsa ini, jangan sampai karena rekam jejak digital yang di buatnya di masa lalu justru merugikan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Top