You are here
Home > Opini > Eksistensialisme Indonesia Pasca Kemerdekaan
1.621 views

Eksistensialisme Indonesia Pasca Kemerdekaan

Penulis : Robby Xandria Mustajab 

 Ketua Bidang PTKP HmI Korkom UPI

dncommunity.id –  Riuh perlombaan, bendera dijalanan, upacara bendera di pagi hari, dan lagu kebangsaan Indonesia raya adalah hal yang mewarnai peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke 74. “17 agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Indonesia”, begitu kata orang-orang. Setiap tanggal 17 agustus senantiasa diperingati kemerdekaan bangsa ini, untuk mengenang perjuangan dan jasa para pahlawan yang berhasil mengusir penjajah. Wajah anak yang dihiasi senyuman dengan penuh kebahagiaan di momentum peringatan hari kemerdekaan adalah apa yang harus kita syukuri sebagai karunia Tuhan kepada bangsa ini.

Menyadari bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus di hapuskan, seyogyanya bangsa ini telah benar-benar merdeka baik secara de facto maupun de jure karena lepas dari belenggu penjajah. Berdasarkan hal tersebut, belajar dari pengalaman sejarah yang menyakitkan selama 352 tahun dijajah Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang ada hal menarik dimana banyak buku sejarah dan referensi lain yang menjelaskan bahwa penjajahan Jepang lebih menyakitkan meski hanya 3,5 tahun. Mengapa? jika kerja paksa romusha Jepang adalah hal yang paling menyakitkan, bagaimana dengan kerja rodi jaman Belanda? Jika diambilnya rempah-rempah jaman Jepang menyakitkan seharusnya 350 tahun perampasan rempah oleh Belanda lebih menyakitkan. Lantas mengapa penjajahan oleh Jepang dikatalan jauh lebih menyakitkan dibanding penjajahan Belanda? Hal ini karena terdapat keterlibatan kaum pribumi dan pemerintah Indonesia dalam proses penjajahan Jepang.

Jika pada saat penjajahan Belanda, orang dengan kulit putih mata biru tubuh tinggi dan hidung mancung “memerintah” secara paksa secara langsung kepada orang Indonesia sebagai bukti penjajahan, maka ketika Jepang menjajah “perintah paksa” tersebut dilontarkan oleh pribumi yang terikat oleh penjajah Jepang. Romusha adalah bukti kerja paksa Jepang yang di intruksikan oleh Soekarno, awalnya rakyat merasa gembira karena intruksi itu hadir dari pribumi, namun ternyata terbukti tidak kalah menyakitkan dari saat di perintah paksa oleh Belanda karena Soekarno “di stir” oleh pemerintah Jepang. Melihat peristiwa sejarah, dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia hari ini apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka dengan terlepas dari dominasi asing? apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka dengan pemimpinnya yang independen dan tidak di stir oleh asing? Jawabannya adalah tidak.

Keberadaan “merdeka” itu adalah ketika bangsa ini mampu berdiri diatas kaki sendiri, melindungi segenap bangsa indonesia, mampu memajukan kesejahteraan umum, mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mampu ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial rakyatnya. Yang terjadi hari ini adalah saham dibuka seluas-luasnya untuk asing, aset negara dijual, pembangunan infrastruktur, gedung dan beton ditinggikan tapi kemanusiaan di rendahkan. Apa jadinya jika pemerintah di dominasi asing? yang terjadi adalah rakyat terjajah dengan harga-harga yang melangit, biaya kesehatan mahal, bahkan kapitalisasi sudah masuk kedalam pendidikan yang membuat orang yang tidak memiliki harta HARAM untuk sekolah dan kuliah.

Tulisan ini adalah pengingat bagi kita semua mengenai eksistensialisme kemerdekaan diantara rakyat Indonesia, dengan kesenjangan sosial ekonomi yang tinggi, dengan penggusuran akibat proyek-proyek asing, dengan berbagai monopoli politik yang menyengsarakan rakyatnya adalah bukti Indonesia BELUM merdeka! Panjang umur perjuangan! Hidup rakyat yang melawan kedzaliman! Selamat Hari Raya Kemerdekaan Indonesia yang katanya ke 74

Tinggalkan Balasan

Top