You are here
Beranda > Opini > Efektivitas Pembelajaran Daring di Tengah Wabah Covid-19

Efektivitas Pembelajaran Daring di Tengah Wabah Covid-19

dncommunity.id – Dampak mewabahnya virus COVID-19 kini juga telah di rasakan oleh dunia pendidikan. Hal ini telah diakui oleh organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan perserikatan bangsa bangsa (UNESCO) pada kamis tanggal 5 maret 2020 menyatakan bahwa wabah virus COVID-19 telah berdampak terhadap sektor pendidikan. Hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam hak hak pendidikan mereka di masa depan.

Semula berangkat dari himbauan pemerintah dan surat edaran Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada satuan pendidikan, dan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang belajar dan bekerja dari rumah tujuannya yakni untuk memutus rantai penyebaran virus COVID-19. Mengingat dengan adanya surat edaran tersebut maka muncul pertanyaan sejauh manakah efektivitas pembelajaran daring di tengah pandemik ini?

Dalam proses pelaksanaan pembelajaran daring yang seolah menjadi solusi bagi dunia pendidikan di tengah pandemik muncul perkara yang setidaknya harus kita ketahui ini tentu terdapat kendala yang dalam penyelenggara pendidikan sebagai berikut:

  1. Berkaitan dengan sarana pra sarana yang harus dimiliki oleh semua komponen yang ada dalam dunia pendidikan kemudian internet, mau tidak mau internet harus bisa mencapai seluruh wilaya yang menyelenggarakan pembelajaran daring.
  2. Dari segi kemahiran menggunakan teknologi, pemerintah dan masyarakat harus bisa menjamin seluruh aspek dalam dunia pendidikan termasuk siswa harus sudah bisa mengoperasikan teknologi, sedangkan kita tidak bisa hindari bahwa di lapangan masih banyak orang yang gagap akan penggunaan teknologi.
  3. Pembelajaran ini harus bisa merelevansikan diri kedalam tujuan pendidikan bangsa. Komposisinya harus sama atau seimbang dengan pembelajaran konvensional tidak boleh kurang. Dari segi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Pembelajaran daring harus bisa menjadi sarana lain untuk mewujudkan cita cita bangsa bukan mewariskan sistem pendidikan gaya banking yang terkenal dari freire. Kemudian di manipulasi menjadi penugasan gaya banking karna jika kita perhatikan dengan seksama di semua satuan pendidikan yang menyelanggarakan pembelajaran daring dominannya pendidik justru memberikan tugas bukan materi. Jadi bukan pembelajaran jarak jauh sebetulnya apa yang dilakukan oleh Guru kepada peserta didik melainkan Penugasan Jarak Jauh.

Dengan demikian sistem pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi yang ada merupakan solusi untuk saat ini. Sebab jika tidak, maka ini akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan kematangan hasil dan pencapaian dari proses pendidikan karena pembelajaran terhenti.

Dengan pembelajaran online guru masih bisa memantau dan memberikan materi pembelajaran kepada siswa. Selain pembelajaran dari guru adapun perusahaan penyedia layanan pendidikan seperti ruangguru,skill academy,quiper video, dan zenius.

Dimana perusahaan perusahaan tersebut menggratiskan layanan serta memberikan gratis quota belajar sebanyak 30Gb. Hal tersebut dapat menunjang siswa untuk dapat mengakses secara rutin sekolah online. Adapaun tujuan hal tersebut agar pembelajaran yang dirasa kurang efektif akan lebih sedikit jelas.

Lantas Efektif kah pembelajaran daring di tengah wabah covid-19 ini? Atau justru malah inefisien di dalam pelaksanaan pembelajarannya? Tentu seperti yang sudah di uraikan diatas pembelajaran daring di tengah wabah covid-19 ini merupakan suatu solusi agar peserta didik tetap mendapatkan hak pendidikannya.

Namun ketika berbicara efektivitas tentu belum sangat efektif sebab umumnya guru hanya menekankan pembelajaran berbasis kognitif tanpa menunjang pembelejaran berbasis karakter, sebab fakta di lapangan guru hanya sekedar memberikan penugasan saja yang mana penugasan itu sendiri jika dilakukan terus menerus dapat menjadikan depresi bagi siswa karena terus di cekoki latihan dan tugas tanpa di tunjang materi pokok juga penguatan karakter karena pembelajaran berbasis daring disini tidak menunjang 3 aspek  pembelajaran yaitu:

Perencanaan, perencanaan disini masih kurang disiapkan oleh guru untuk menghadapi pembelajaran daring sehingga pada aspek pelaksanaanya pun guru hanya memberikan beban tugas kepada siswa tanpa adanya penguatan materi, dan pada aspek evaluasi disini tentunya guru mendapatkan kendala bagaimana bisa mengevaluasi peserta didik itu hanya berdasarakan ranah kognitif saja, sedangkan seharusnya rangkaian Evaluasi itu mencakup Test, Non Test,

Pengukuran, dan juga Penilaian. Bagaimana bisa seorang gur mengevaluasi dalam pembelajaran daring mengutip cakupan evaluasi pembelajaran tersebut? Karna indikator yang di perlukan bukan sekedar kognitif saja melainkan juga secara afektif dan juga psikomotorik sedangkan pembelajaran daring saat ini hanya lebih menekankan kepada kognitifnya saja.

Selain itu pembelajaran daring dikatakan sangat tidak efektif karena tidak bisa menyentuh secara keseluruhan peserta didik dipenjuru Indonesia mengapa demikian? Kita tahu bahwasannya teknologi dan juga internet itu perlu ditunjang dengan yang namanya alat smartphone atau laptop juga computer faktanya masih banyak  peserta didik yang tidak memiliki alat penunjang pembelajaran daring tersebut, belum lagi kondisi jaringan yang kurang memadai karena tidak adanya pemerataan jaringan juga keterbatasan teknologi di penjuru Indonesia itu sendiri.

Berbeda mungkin ketika peserta didik yang berada di Kota yang di tunjang dengan berbagai macam alat teknologi untuk menunjang pembelajaran daring, tetapi bagaimana peserta didik yang di kabupaten atau juga desa yang tidak bisa mengakses pembelajaran daring tersebut dengan keterbatasan? Tentu ini menjadikan kecemburuan sosial dan juga bagaimana caranya mencapai indikator efektivitas pembelajaran daring tersebut? Jelas sangat bisa dikatakan bahwsannya pembelajaran daring ini hanya sebagai solusi namun belum efektif ketika di terapkan.

Adapun solusi dari seluruh permasalahan aspek terkait pembelajaran daring tersebut yang pertama dan yang paling utama yakni pemerintah harus bisa merelokasi atau pemerataan pembelajaran daring agar hak dan juga cita cita pendidikan bangsa Indonesia mampu terwujudkan.

Selain itu juga guru seharusnya lebih mengaktualisasi nilai pembelajaran bukan malah menjadi tugas daring yang membebankan peserta didik adapun bagi yang tidak dapat mengikuti pembelajaran daring  baiknya guru lebih aktif lagi mendata peserta didik yang tidak memiliki akses agar mendapat solusi lalu selebihnya apabila sekolah belum memiliki fasilitas idealnya mengajukan ke pemerintah. Namun memang akan sulit dilaksanakan tetapi itu solusi akan sangat membantu penyelarasan pemerataan pendidikan khususnya dalam pembelajaran daring.

 

Tulisan ini dibuat dari hasil diskusi HMI Komisariat PIPS UPI.

Penulis: Muhammad Rizqi Prajab

Mahasiswa Pendidikan IPS

Universitas Pendidikan Indonesia

Fauzi
Editor di DNCommunity.

Tinggalkan Balasan

Top